Babak Akhir yang Menentukan (1)

Hari-hari terakhir menjalani ibadah puasa Ramadhan itu layaknya mengikuti lomba memasukkan benang ke dalam lobang jarum. Waktunya sangat terbatas. Suasananya gerah dan gemuruh. Riuh-rendah. Membuat tidak mudah untuk fokus.

Jika jarumnya jarum karung yang lobangnya besar sementara benangnya benang jahit, akan lebih mudah. Tapi jika jarumnya jarum jahit tapi yang dimasukkan benang bol, ini jelas sangat sulit karena sangat pas ukuran benang dengan lobang jarum.

Saat-saat ujung benang hendak dimasukkan lobang jarum harus benar-benar fokus, tenang. Terlalu tegang juga bisa gagal. Terlalu lemah juga tidak bisa masuk. Apalagi emosi. Marah-marah. Ngamuk. Bahkan saat ujung benang sudah menyentuh lobang jarum, bisa ambyar oleh hembusan nafas kita sendiri.

Rasulullah Muhammad SAW sudah memberi contoh kepada umatnya, pada sepuluh hari terakhir puasa lebih banyak itikaf di dalam masjid.  Di antara tujuannya adalah agar bisa fokus beribadah. Mencegah naiknya dorongan hawa nafsu. Mencegah tarikan-tarikan eksternal yang bisa merusak puasa.

Itikafnya Rasulullah itu bukan semata memberi contoh mengejar Lailatul Qadar. Buktinya pada siang hari pun beliau banyak di masjid. Padahal Lailatul Qadr itu diturunkan malam hari.  

Jika semata untuk mendapat Lailatul Qadar tidak harus di masjid. Sebab Lailatul Qadar itu bukan soal tempat turun, melainkan soal ibadah. Jadi di manapun beribadah pada malam Lailatul Qadar akan mendapatkannya.

Lailatul Qadar yang diturunkan pada 10 hari terakhir Ramadhan itu semacam iming-iming bonus super besar. (Dinilai sepadan dengan beribadah 1.000 bulan atau 83,4 tahun).  Agar umat Islam lebih semangat fokus menjaga puasanya hingga puasanya berakhir husnul khatimah.

Masjid pasti lebih kondusif untuk melakukan aktivitas batin di banding tempat lain seperti rumah, apalagi tempat-tempat publik dan bisnis seperti mal, pusat hiburan.  Batin akan lebih fokus untuk beribadah karena memang itu fungsi utama masjid. Di masjid mendorong kesibukan batin berupa dzikrullah, mengingat Allah. Baik dengan shalat, menelaah Al Quran, bertasbih.

Nah, di jaman now, eksistensi masjid sebagai tempat paling kondusif untuk fokus ibadah mulai terancam. Apalagi jika menyediakan internet gratis. Tarikan yang bisa merusak puasa justru saat ini sangat mudah melalui jagat virtual. Salah satu contoh, mau baca Quran melalui aplikasi di HP. Sebelum baca, nyelononglah iklan snack video dengan konten cewek goyang-goyang. Mumet gak jadi ngaji. Ambyar.

Di masjid tapi lebih banyak medsosan daripada shalat. Lebih banyak baca status dan komen daripada baca Quran. Jari jemari lebih sibuk memencet tombol HP daripada memutar tasbih. (Yang baca ini kok ketawa, pertanda pernah pengalaman).

 

Menuju Allah

Mengapa harus fokus? Karena hakikat puasa itu perjalanan menuju Allah. Perjalan hakiki dalam garis lurus sangkan paraning dumadi (asal muasal dan tempat kembali semua mahluk). Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (Sesungguhnya milik Allah dan kepada Allah pula dikembalikan).

Bergerak menuju Allah hingga sampai manunggal dengan Allah, wahdatul wujud (manungaling kawula-Gusti). Menyatunya hamba dengan Tuhan.  Bukan manunggal secara fisikal karena itu mustahil. Sebab Allah bukan mahluk. Dan Allah itu muhalalfatu lil hawadis (berbeda dengan mahluk). Kemanunggalannya bersifat esensial. Jika dibuat analog itu kira-kita mirip kemanunggalan api dengan panas.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Quran:50:16).

Fokus dalam berpuasa ini sekaligus latihan agar tetap fokus saat menghadapi sakaratul maut. Saat sakaratul maut itu akan datang godaan setan dari seluruh penjuru bumi agar kandidat jenazah  berpaling dari Allah justru pada saat-saat terakhir. Sehingga tidak ada waktu lagi untuk bertobat.

Sampai-sampai orang di sekitarhya dianjurkan untuk melakukan talkin atau tuntunan membaca kalimah tauhid La ilaha illallah. Karena babak itulah yang menentukan seseorang masuk surga atau masuk neraka.

 

Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu)

Anwar Hudijono, Kolumnis tinggal di Sidoarjo